Selasa, 24 Maret 2009

ANALISIS KEBUTUHAN ANAK USIA DINI

ANALISIS KEBUTUHAN ANAK USIA DINI

(Mengenali Perkembangan Anak)

Sebagian orang berpendapat bahwa mengajar di Sekolah Minggu bukanlah pekerjaan yang sukar. Anggapan seperti inilah yang sering menjadi penyebab kegagalan dalam mengajar.
Karena disamping persiapan mengajar yang matang, seorang Guru Sekolah Minggu dituntut untuk memahami/memperhatikan perkembangan Psikologi Anak berdasarkan usianya. Hal ini akan berpengaruh pada tehnik mengajar yang harus digunakan sesuai dengan perkembangan usia mereka.

Dari berbagai ahli yang menyusun tentang tingkat perkembangan anak, ada dua model yang sangat berpengaruh dalam pengajaran di Sekolah Minggu.
Dengan mempertimbangkan batasan umum Sekolah Minggu, maka dalam pembahasan inipun dibatasi sampai pada usia pra-remaja dengan perkembangan normal.

Perkembangan KOGNITIF ANAK
Menurut PIAGET perkembangan ini dibagi dalam 4 tahap:
1. Sensori Motor (usia 0-2 tahun)
Dalam tahap ini perkembangan panca indra sangat berpengaruh dalam diri anak.
Keinginan terbesarnya adalah keinginan untuk menyentuh/memegang, karena didorong oleh keinginan untuk mengetahui reaksi dari perbuatannya.
Dalam usia ini mereka belum mengerti akan motivasi dan senjata terbesarnya adalah 'menangis'.
Menyampaikan cerita/berita Injil pada anak usia ini tidak dapat hanya sekedar dengan menggunakan gambar sebagai alat peraga, melainkan harus dengan sesuatu yang bergerak (panggung boneka akan sangat membantu).

2. Pra-operasional (usia 2-7 tahun)
Pada usia ini anak menjadi 'egosentris', sehingga berkesan 'pelit', karena ia tidak bisa melihat dari sudut pandang orang lain. Anak tersebut juga memiliki kecenderungan untuk meniru orang di sekelilingnya. Meskipun pada saat berusia 6-7 tahun mereka sudah mulai mengerti motivasi, namun mereka tidak mengerti cara berpikir yang sistematis - rumit.
Dalam menyampaikan cerita harus ada alat peraga.

3. Operasional Kongkrit (usia 7-11 tahun)
Saat ini anak mulai meninggalkan 'egosentris'-nya dan dapat bermain dalam kelompok dengan aturan kelompok (bekerja sama). Anak sudah dapat dimotivasi dan mengerti hal-hal yang sistematis.
Namun dalam menyampaikan berita Injil harus diperhatikan penggunaan bahasa.
Misalnya: Analogi 'hidup kekal' - diangkat menjadi anak-anak Tuhan dengan konsep keluarga yang mampu mereka pahami.

4. Operasional Formal (usia 11 tahun ke atas)
Pengajaran pada anak pra-remaja ini menjadi sedikit lebih mudah, karena mereka sudah mengerti konsep dan dapat berpikir, baik secara konkrit maupun abstrak, sehingga tidak perlu menggunakan alat peraga.
Namun kesulitan baru yang dihadapi guru adalah harus menyediakan waktu untuk dapat memahami pergumulan yang sedang mereka hadapi ketika memasuki usia pubertas.


Perkembangan PSYCHO-SOSIAL
Menurut ERICK ERICKSON perkembangan Psycho-sosial atau perkembangan jiwa manusia yang dipengaruhi oleh masyarakat dibagi menjadi 8 tahap:
1. Trust >< Mistrust (usia 0-1 tahun)
Tahap pertama adalah tahap pengembangan rasa percaya diri.
Fokus terletak pada Panca Indera, sehingga mereka sangat memerlukan sentuhan dan pelukan.

2. Otonomi/Mandiri >< Malu/Ragu-ragu (usia 2-3 tahun)
Tahap ini bisa dikatakan sebagai masa pemberontakan anak atau masa 'nakal'-nya. sebagai contoh langsung yang terlihat adalah mereka akan sering berlari-lari dalam Sekolah Minggu.
Namun kenakalannya itu tidak bisa dicegah begitu saja, karena ini adalah tahap dimana anak sedang mengembangkan kemampuan motorik (fisik) dan mental (kognitif), sehingga yang diperlukan justru mendorong dan memberikan tempat untuk mengembangkan motorik dan mentalnya.
Pada saat ini anak sangat terpengaruh oleh orang-orang penting di sekitarnya (Orang Tua - Guru Sekolah Minggu)

3. Inisiatif >< Rasa Bersalah (usia 4-5 tahun)
Dalam tahap ini anak akan banyak bertanya dalam segala hal, sehingga berkesan cerewet. Pada usia ini juga mereka mengalami pengembangan inisiatif/ide, sampai pada hal-hal yang berbau fantasi.
Mereka sudah lebih bisa tenang dalam mendengarkan Firman Tuhan di Sekolah Minggu.

4. Industri/Rajin >< Inferioriti (usia 6-11 tahun)
Anak usia ini sudah mengerjakan tugas-tugas sekolah - termotivasi untuk belajar. Namun masih memiliki kecenderungan untuk kurang hati-hati dan menuntut perhatian.

Sesuai dengan batasan usia Sekolah Minggu pada umumnya, maka empat tahap berikutnya (Usia diatas 11 tahun) tidak dibahas dalam kolom ini.

PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK


TUGAS PERTAMA ANALISA DAN KOMENTAR
(Perkembangan Kreativitas pada Anak)


Kreativitas merupakan sebuah konsep yang kompleks dan multi-di­mensional, sehingga sulit didefinisikan secara operasional. Definisi sederhana yang sering digunakan secara luas tentang kreativitas adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru.
Dalam semua bentuk produk kreativitas, selalu ada sifat dasar yang sama, yaitu keberadaan sesuatu yang baru atau belum pernah ada sebelumnya. Sifat baru itulah yang menandai produk, proses atau orang kreatif. Sifat baru itu memiliki ciri-ciri:
(a) produk yang sifatnya baru sama sekali yang sebelumnya belum ada;
(b) produk yang memiliki sifat baru sebagai hasil kombinasi beberapa produk yang sudah ada
sebelumnya; dan
(c) suatu produk yang bersifat baru sebagai hasil pembaruan (inovasi) dan pengembangan
(evolusi) dari hal yang sudah ada (Nashori & Mucharam, 2002)

Perhatian para psikolog dan dunia pendidikan terhadap kreativitas sebagai salah satu aspek dari fungsi kognitif yang berperan dalam prestasi anak salah satunya diperkenalkan oleh Guilford. Ia menyebutkan adanya dua macam kemampuan berpikir, yaitu berpikir konvergen dan berpikir divergen. Kemampuan berpikir konvergen (convergent thinking) atau penalaran logis menunjuk pada pemikiran yang menghasilkan satu jawaban dan mencirikan jenis pemikiran berdasarkan standar tes inteligensi. Sedangkan kemampuan berpikir divergen (di­vergent thinking) merujuk pada pemikiran yang menghasilkan banyak jawaban atas pertanyaan yang sama dan lebih merupakan indikator dari kreativitas (Santrock, 1995). Berpikir divergen merupakan aktivitas mental yang asli, murni dan baru, yang berbeda dari pola pikir sehari-hari dan menghasilkan lebih dari satu pemecahan masalah.
Berpikir konvergen dan divergen cenderung saling terkait. Salah satu hasil penelitian dari dua pakar psikolog dari Universitas Chicago, Getzels dan Jackson (1962), menemukan bahwa kelompok siswa yang kreativitasnya tinggi memiliki prestasi sekolah yang tidak berbeda dengan kelompok siswa yang inteligensinya relatif lebih tinggi. Penelitian Utami Munandar (1977) terhadap siswa SD dan SMP, juga menunjukkan bahwa kreativitas sama pentingnya seperti inteligensi sebagai prediktor dari prestasi sekolah. Di samping menyebutkan pentingnya pengembangan berpikir divergen, Guilford juga menyebutkan bahwa kreativitas berarti ap­titude dan non-aptitude. Ciri-ciri aptitude dari kreativitas (berpikir kreatif) meliputi: kelancaran, fleksibilitas, dan orisinalitas dalam berpikir, dan ciri-ciri ini dioperasionalisasikan dalam tes berpikir konvergen. Namun produktivitas kreatif tidak sama dengan produktivitas divergen. Sejauhmana seseorang mampu menghasil­kan prestasi kreatif, ditentukan oleh ciri-ciri non-aptitude (afektif). Utami Munandar (1977) melalui penelitiannya di Indonesia, menyebutkan ciri-ciri kepribadian kreatif yang diharapkan oleh bangsa Indonesia, yaitu:
1. Mempunyai daya imajinasi yang kuat;
2. Mempunyai inisiatif;
3. Mempunyai minat yang luas;
4. Mempunyai kebebasan dalam berpikir;
5. Bersifat ingin tahu;
6. Selalu ingin mendapatkan pengalaman-pengalaman baru;
7. Mempunyai kepercayaan diri yang kuat;
8. Penuh semangat;
9. Berani mengambil resiko;
10. Berani mengemukakan pendapat dan memiliki keyakinan
(Munandar, 1999).

Meskipun demikian, dalam kenyataannya guru tidak dapat mengajarkan kreativitas, melainkan ia hanya dapat memungkinkan munculnya kreativitas, memupuknya, dan merangsang pertum buhannya. Untuk itu, Utami Munandar(1991) menyarankan beberapa falsafah mengajar yang perlu dikembangkan guru dalam mendorong kreativitas peserta didiknya, yaitu:
1. Belajar adalah sangat penting dan sangat menyenangkan.
2. Anak patut dihargai dan disayangi sebagai pribadi yang unik.
3. Anak hendaknya menjadi pelajar yang aktif. Mereka perlu didorong untuk membawa
pengalaman, gagasan, minat dan bahan mereka ke kelas. Mereka dimungkinkan untuk mem bicarakan bersama dengan guru mengenai tujuan belajar setiap hari, dan perlu diberi otonomi dalam menentukan bagaimana mencapainya.
4.Anak perlu merasa nyaman dan dirangsang di dalam kelas, tanpa adanya tekanan dan ketegangan.
5.Anak harus mempunyai rasa memiliki dan kebangsaan di dalam kelas: Mereka perlu dilibatkan dalam merancang kegiatan belajar dan diperbolehkan membawa bahan-bahan dari rumah.
6.Guru hendaknya berperan sebagai narasumber, bukan polisi atau dewa. Anak harus menghormati guru, tetapi merasa nyaman dan aman bersama guru.
7.Anak perlu merasa bebas untuk mendiskusikan masalah secara terbuka, baik dengan guru maupun dengan teman sebaya. Ruang kelas adalah milik mereka, dan mereka berbagi tanggung jawab dalam mengaturnya.
8. Kerja sama selalu lebih daripada kompetisi.
9. Pengalaman belajar hendaknya dekat dengan pengalaman dari dunia nyata.

Sumber: Desmita. (2005). Psikologi Perkembangan.Remaja Rosda Karya. Bandung

Jumat, 24 Oktober 2008

A. KETENTUAN TUGAS = HARUS DIBACA


  1. Setiap mahasiswa yang mendapatkan tugas, harus memilih artikel sesuai dengan mata kuliah yang diambil.
  2. Selanjutnya baca dengan cermat.
  3. Berilah komentar tentang artikel tersebut secara singkat
  4. Komentar tulis pada kolom dibawah ini yang tertulis TULIS KOMENTAR DAN KOMENTAR ANDA
  5. Klik tulisan komentar, ikuti perintah dan tulislah komentar anda
  6. Pastikan komentar anda telah muncul di blog
  7. Cantumkan, Nama Lengkap, NIM, Jurusan dan alamat email anda pada atas komentar.
  8. Komentar/analisa dianggap memenuhi dan dapat untuk menambah nilai bila di posting sebelum tanggal 28 Maret 2009, jam ; 20.00 WITA
  9. Terima kasih, selamat mengerjakan